Menu Close

Workshop Menulis HIMPAUDI DIY: Guru PAUD Penggerak Literasi Siap Menginspirasi

Yogyakarta (05/12/2020) Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) DIY bekerjasama dengan BP PAUD dan Dikmas Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam Workshop Menulis secara daring, Workshop diikuti sekitar 130 guru Pendidikan Anak Usia Dini se-Daerah  Istimewa Yogyakarta.

Workshop menghadirkan narasumber Fahd Pahdepie, penulis-entreprenuer dan Dr. Muhsin Kalida, M.A., M.Pd., psychowriter-dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Workshop dibuka oleh Zamzami Ulwiyati Darojat, S.Ag., Ketua Pimpinan Wilayah HIMPAUDI DIY. Maya Veri Oktavia, S.Pd, Ketua Panitia, menyampaikan, HIMPAUDI DIY  sudah beberapa kali melaksanakan kegiatan yang bekerjasama dengan BP PAUD dan Dikmas DIY, diantaranya parenting rutin setiap bulan, di awal bulan Desember 2020 ini berupa workshop menulis.

Zamzami Ulwiyati Darojat, S.Ag menjelaskan, workshop menulis bertujuan terbentuknya komunitas guru menulis dan sebagai ruang wawasan keilmuan tentang penulisan, serta memotivasi dan menginspirasi dalam proses kreatif menulis. Guru PAUD bersama menulis esai bertema Kisah di Balik Belajar Dari Rumah (BDR). Rencana hasil workshop menulis terbit buku ontologi bersama dan akan di launching pada akhir Desember bertepatan dengan Hari Ibu. “Orang yang cerdas adalah orang yang mempu mengelola problem menjadi sebuah produk dan saya yakin pendidik PAUD adalah orang yang hebat dan cerdas.” pungkasnya.

Penyampaian materi dari narasumber Fahd Pahdepie, Penulis-Entreprenuer

Fahd Pahdepie memaparkan dalam menulis perlu mengerti urutan peristiwa, timing, dan karakternya. Menulis cara manusia merekam sejarah dan ingatannya. Menulis lebih sulit dari bicara, karena menulis perlu struktur dan pola penulisan dengan menerka pilihan pembaca. “Sadar baca, sadar tulis, sadar dokumentasi. Everything is a story.” ujarnya mengakhiri presentasi.

Dr. Muhsin Kalida, MA., M.Pd. mengatakan dengan menulis sejarah kita maka akan abadi dan tidak akan hilang. Quote, jangan tidur sebelum membaca, jangan mati sebelum berkarya. Sebagaimana jelas tertulis dalam salah satu kitab suci, perintah untuk membaca dan menulis. Kemampuan menulis harus terus diasah dengan menulis segala yang diingat dan dilakukan. Modal utama menjadi penulis adalah menulis dan terus menulis.

Nurlistiyati, salah satu peserta mengatakan, workshop yang diikuti menjadi kesempatan luar biasa.Bertemu dengan para narasumber hebat, mendapat banyak manfaat tambahan ilmu dan wawasan, serta lebih membukakan hati dan pikiran bahwa sebenarnya menulis itu tak sesulit yang dibayangkan,“Materi dan sharing dari narasumber sangat bermanfaat sekali, mengingatkan kita untuk segera memulai apa yang tertunda, segera action menuangkan ide atau apapun yang dekat dengan kita untuk segera kita tulis. Agar suatu saat kita akan dikenang dengan karya kita,” pungkas Nurlistiyati.

Pewarta: Sabatina Rukmi Widiasih

Posted in Berita