Menu Close

Studi Pendahuluan: Rancangan yang Eksploratif

Yogyakarta (11/03/2019) Pengembangan Model menjadi core bisnis Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, selain penjaminan mutu.  “Salah satu indikator keberhasilan model adalah divalidasi oleh direktorat terkait. Tidak kalah penting hasil pengembangan model harus dapat dimanfaatkan oleh satuan pendidikan atau masyarakat,” kata Eko Sumardi, Kepala BP PAUD dan Dikmas D.I. Yogyakarta.  Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan pembahasan Rancangan Studi Pendahuluan, yang dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2019,yang diikuti perwakilan dari lembaga PAUD, PKBM dan LKP sejumlah 30 orang.   

Kegiatan  tersebut untuk mereview rancangan studi pendahuluan yang disusun oleh tim pengembang sebelum pengambilan data. Agar data yang diperoleh akurat, sehingga dapat dijadikan dasar untuk memberikan masukan informasi dari lapangan sebagai dasar untuk menyusun model.  

Yetti Pudiyantari menjelaskan bahwa pamong belajar BP PAUD dan Dikmas terbagi dalam dua kelompok kerja, yaitu: kelompok kerja PAUD yang dipimpin oleh Siti Donatirin, dan kelompok kerja Pendidikan Orang Dewasa (POD)  yang dipimpin oleh M.Th. Yetti Pudyantari. Nara Sumber PAUD,  Dr. Sujarwo (UNY), dan  Dr. Sri Wening (UNY) sebagai nara sumber POD.  Setelah acara pembukaan, dilanjutkan pembahasan masing-masing kelompok kerja. Kelompok kerja PAUD, mengembangkan 3 model, yaitu 2 model PAUD dan 1 model pendidikan keluarga. Kelompok kerja POD, ada 4  model yang dikembangkan, terdiri dari 2 model kesetaraan, 1 model keaksaraan, dan 1 model LKP.

Paparan Pokja POD disampaikan oleh M.Th. Yetti Pudyantari yang berisi garis besar model yang akan dikembangkan, juga menjelaskan terkait responden studi pendahuluan.  Responden masing-masing model berjumlah 10 orang. Unsurnya tergantung pengembang, bisa pengelola, instruktur/tutor, peserta didik, dan juga pengguna lulusan atau dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Pengembangan model merupakan penelitian pengembangan, maka salah satu tahap yang harus dilakukan adalah studi pendahuluan. “Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan,  diperlukan kisi-kisi  yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun instrumen. Instrumen yang dibuat harus mewakili apa yang akan digali, artinya instrumen untuk kebijakan, berbeda dengan instrumen pelaksanaan pembelajaran dan instrumen kendala dan harapan dalam mengelola lembaga,” pesan Sri Wening selaku nara sumber.

Pembahasan dilanjutkan dengan diskusi kelompok, yang membahas masing-masing model. Model kesetaraan dan keaksaraan  dengan lembaga PKBM dan SKB, sedang model kursus dengan lembaga LKP.  Kegiatan ditutup oleh masing-masing tim pengembang. Pewarta: Hasiyati

Posted in Berita