Menu Close

Pembelajaran Mandiri Meningkatkan Motivasi Belajar

Program Paket C dilaksanakan untuk melayani warga belajar yang tidak mempunyai kesempatan mengikuti pendidikan formal.  Karena keadan geografi, tidak mempunyai waktu dan keterbatasan  biaya. Karena hampir semua peserta didik sudah bekerja dan  berkeluarga dan bertempat tinggal jauh dari lembaga pendidikan formal (sekolah).  Sehingga diperlukan model pembelajaran yang dapat mengakomodasi mereka untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satu diantaranya adalah ijazah sebagai legalitas formal yang harus dipunyai.  Bagi yang sudah bekerja kepemilikan ijazah diperlukan untuk memenuhi kualifikasi di tempat bekerja. Juga untuk menaikkan pendapatan. Bagi yang sudah berkeluarga ijazah tidak begitu diperlukan akan tetapi ilmunya dapat digunakan untuk mendampingi anaknya ketika belajar.  

 Model pembelajaran ada tiga, yaitu pembelajaran tatapmuka, tutorial dan mandiri.  Pembelajaran tatapmuka diperuntukkan matapelajaran yang harus eksakta misalnya matematika yang hitung menghitung, sedang pembelajaran tutorial diperuntukkan matapelajaran yang banyak praktik, misalnya bahasa indonesia, Inggris dan IPS. Sedang pembelajaran  mandiri diperuntukkan matapeajaran sejarah, sosiologi dan PKn. 

Pada konteks ini akan dipaparkan hasil pantauan proses Pembelajaran mandiri yang telah dilaksanakan pada saat ujicoba model panduan belajar mandiri,  mata pelajaran sejarah di PKBM Diponegoro dan SKB Kota Yogyakarta menurut peserta didik. Ujicoba dilaksanakan bulan Oktober dan November 2017. 

Hasil wawancara dengan beberapa peserta didik pada saat ujicoba, membuat tim pengembang merasa bangga. Menurutnya Belajar mandiri  dapat belajar dengan benar dan sungguh-sungguh, lebih bisa membantu/membiasakan untuk mengatur waktu dalam belajar. Belajar mandiri juga  menyenangkan, kita bisa belajar membagi waktu dan menghargai waktu. Juga ada yang bilang dengan belajar mandiri saya jadi ada kemauan untuk belajar dirumah. Peserta didik ternyata juga banyak yang teliti, ketika menemukan hal janggal pada peta jalur nenek moyang di Indonesia, mereka mengungkapkan bahwa ada perbedaan ketika di modul dan dari internet.  Ketika kita konfirmasi penulisnya memang ada yang salah pada modul. Sehingga modul yang disusun perlu ada penyempurnaan. Penguasaan materi belajar oleh tutor juga sangat diperlukan, ketika pembahasan soal,  kompetensi seorang tutor diteter (dicoba). Disinilah kualifikasi seorang tutor dipertaruhkan. Ketika membahas konten sejarah kepiawaian tutor muncul.  Untuk menerangkan soal dan jawaban harus cocok dengan materi. Sehingga cocok dengan apa yang diminta pada Peraturan Pemerintah no 19 tahun 2005 yang sudah diperbarui dengan PP 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan pada standar 4 bahwa kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidik pada Instrumen Akreditasi Program Paket A, B atau C itu major, artinya harus sesuai. Ketika tidak sesuai lembaga tersebut tidak dapat menyelenggarakan program Paket tersebut.   Sehingga kita memilih tempat ujicoba pada lembaga yang sudah terakreditasi.

Posted in Berita