Menu Close

Mitos dan Rekonstruksi Nilai Masyarakat dalam Proses Literasi Desa Natah

Pada bulan Oktober sampai Desember 2017 lalu, BP PAUD dan Dikmas DIY melaksanakan Program Pembentukan Labsite Kampung Literasi yang berlokasi di Desa Natah, Nglipar, Gunungkidul. Salah satu alasan pemilihan lokasi di desa Natah adalah terkait potensi yang ada ditengah masyarakat, baik berupa sumber daya alam potensi maupun yang sudah mulai dikelola warga secara swadaya, maupun sember daya manusia termasuk beberapa produk dari usaha produktif warga yang bersifat inovasi maupun beberapa kekayaan non materi yang bersifat abstrak seperti sistem nilai dan budaya kearifan lokal.

Sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dan terkait dengan kerajaan Hindu-Buddha hingga Mataram baik kasultanan Ngayogyakarta maupun Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, karakteristik masyarakat di daerah tersebut juga erat dengan sistem nilai, baik berupa mitos, kepercayaan maupun takhayul yang berkaitan dengan keberadaan dan cerita sejarah yang meliputi pasang surut serta proses panjang dari berdirinya kerajaan-kerajaan tersebut . Hal ini terungkap dalam beberapa sesi diskusi dan wawancara terhadap warga, salah satunya Bapak Gimin selaku Ketua RT di Dusun Natah Kulon, menyatakan bahwa ditengah masyarakatnya masih sangat kental kepercayaan terhadap beberapa mitos dan cerita rakyat yang terkait sejarah desa Natah. Beberapa isi tentang mitos tersebut, seperti telah dituliskan oleh warga sebagai dinamika dan hasil dari proses pembentukan kampung Literasi adalah cerita mengenai sejarah Song Keris, Cerita Rakyat mengenai Sendang Natah yang merupakan petilasan Ekowono, hutan larangan yang dijaga Ki Sosrowono  disekitar Watu Mangol yang dipercaya sebagai hutan Kraton Majapahit, dan sebagainya. Hal tersebut juga diamini oleh Bapak Suyoto selaku tokoh masyarakat, yang menyatakan bahwa kekayaan yang berupa sistem nilai dan kepercayaan masyarakat masih cukup tinggi seperti umumnya karakter khas masyarakat pedesaan di Gunungkidul. Proses yang cukup menarik adalah ketika masyarakat yang sebagian besar adalah orang tua, menuliskan cerita tersebut dan berusaha secara aktif untuk saling berdiskusi mengenai cerita apa yang kemudian akan dilanjutkan bagi anak cucu mereka kelak. Artinya, dalam menghadapi perkembangan jaman yang semakin modern, mereka berupaya agar anak cucu tidak hanya dapat mendengar sebuah cerita tentang mitos yang ada di daerahnya. Hal tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk usaha menggali makna dari cerita yang ada secara kualitatif dengan dibantu oleh pamong belajar dari Balai Pengembangan PAUD dan Dikmas . Salah satu hasilnya masyarakat berhasil merekonstruksi nilai yang terkandung dari sebuah cerita mengenai hutan larangan yang dijaga oleh Ki Sosrowono  yang berada disekitar Watu Mangol, selama ini area tersebut merupakan lahan yang hanya ditumbuhi tumbuhan liar dan beberapa tanaman hasil proyek penghijauan di era tahun 90an. Proses dinamika dan literasi yang telah dilakukan ternyata menghasilkan sebuah pemikiran mengenai pengelolaan area hutan larangan tersebut menjadi lahan yang ditanami pohon, terutama penyimpan air seperti gayam dan pohon lo. Hal ini akan bersiombiosis pada kelestarian hutan dan masyarakat dengan sistem nilai yang ada. Sekaligus menjadi upaya konkret warga sebagai pelestarian sumber mata air yangdapat dipergunakan terutama saat musim kemarau.

Pewarta: Guntur Yoga

Posted in Berita