Menu Close

Kampung Literasi Natah “Ubet”nya Tokoh TBM Song Keris

Einstein, seorang ilmuwan besar dunia pernah mengatakan “Cinta adalah guru yang lebih baik dibanding dengan kewajiban”. Mungkin, kata-kata bijak inilah yang patut disematkan kepada para tokoh masyarakat Desa Natah dan perangkat pemerintahnya. Bukan karena sesuatu hal, namun penulis yakin apa yang sudah dilakukan selama ini adalah cerminan dari rasa cinta itu.

Melabeli daerah dengan slogan “Kampung Literasi” itu tidaklah sulit. Namun, membangun kesadaran masyarakat untuk melek aksara, mau selalu belajar, cerdas dan maju tentulah bukan hal yang mudah dilakukan. Butuh ekstra tenaga dan pemikiran bagaimana menggerakkan seluruh masyarakat untuk sampai ke taraf tersebut.

“Kampung Literasi” bagi sebagian warga khususnya di Desa Natah adalah sesuatu yang asing dan baru. Secara harafiah “Kampung Literasi” diterjemahkan sebagai sebuah wilayah dimana aktivitas untuk melek “aksara” dilakukan secara intensif oleh warga/penduduknya. Melek “aksara” dapat diartikan sebagai penguasaan dalam hal pengetahuan dan keterampilan pada bidang-bidang tertentu untuk menghadapi kehidupan dan perubahan (dinamika) yang terjadi.

Terbentuknya “Kampung Literasi” Desa Natah tidak sekadar lahir begitu saja. Ada kisah perjuangan heroik dari para tokoh desa dan motor perubahan tersebut. Salah satunya adalah pendiri sekaligus pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) “Song Keris”, Awan Rohmadi.

“Memang awalnya minat baca masyarakat di Natah itu rendah,” kata Awang mengawali ceritanya. Bahkan belum ada atau terpikirkan adanya media atau tempat untuk belajar berbagai hal bagi masyarakat.

Minat baca masyarakat mulai muncul manakala pihak pemerintah Desa Natah mulai membangkitkan kesadaran masyarakat untuk maju dan berkembang. Apalagi didukung dengan potensi yang sudah dimiliki. Masyarakat butuh informasi lebih sebagai bekal mendukung dan mensukseskan program pembangunan pemerintah Desa Natah.

“Memang ke depan kami bercita-cita bisa membangun sebuah desa wisata seusia potensi yang kami miliki. Ada satu spot bernama Watu Mangul yang eksotis panoramanya,” ujar Wahyudi Kepala Desa Natah. Hal ini diamini juga oleh Heru Pranowo tokoh masyarakat Desa Natah.

“Ada ide mengembangkan spot Watu Mangul menjadi spot wisata Rocky Village Watu Mangul,” kata Heru Pranowo menambahkan. Tentu butuh banyak persiapan bukan saja material namun unsur sumber daya manusianya.

“Kami beruntung bisa terhubung dengan BP PAUD dan Dikmas DIY sebagai sebuah lembaga pemerintah dalam mengembangkan program pendidikan masyarakat,” imbuh Awan Rohmadi. Lebih lanjut Awang menambahkan bahwa pola-pola pendekatan pendidikan masyarakat melalui pengembangan model kampung literasi dari BP PAUD dan Dikmas DIY sedikit demi sedikit mulai menyentuh dan membangun kesadaran masyarakat. Hingga akhirnya terbentuk TBM Song Keris dan berdampak pada minat baca masyarakat.

Meskipun begitu, Awan Rohmadi menyadari bahwa masih banyak kekurangan seperti koleksi bahan bacaan, media belajar yang relevan dan sebagainya. (by_agushp)

Pewarta: Agus Hari Prabowo

Posted in Berita