Menu Close

Inilah Aktivitas Produktif Ibu-ibu Kelompok Bermain Khoiru Ummah Ketika Menunggu Anak Belajar

Kulon Progo (28/09/2018) Jika kebanyakan Ibu-ibu lebih banyak asyik dengan HP-nya, ngerumpi, mojok di warung terdekat ketika menunggu anak belajar di PAUD, tidak demikian dengan Ibu-ibu peserta didik di Kelompok Bermain Khoiru Ummah, Giling, Tuksono, Sentolo, Kulonprogo. Ketika reporter berkunjung ke PAUD tersebut, kebetulan pembelajaran berlangsung di serambi masjid karena gedung Kelompok Bermain sedang dibangun. Anak-anak berlajar bersama gurunya, di sebelahnya tampak ibu-ibu sedang duduk bergerombol. Sekilas terlihat hanya ngerumpi, tetapi ketika diamati ternyata masing-masing sedang memegang jarum dan tali. O … ternyata Ibu-ibu tersebut tidak sekedar ngerumpi tetapi sambil asyik merajut. Tangan-tangan terlihat sangat terampil, dan sudah bekerja otomatis, meski sambil berbicara.


Ibu-ibu sedang asyik merajut, sementara di belakang anak-anak sedang belajar bersama guru di KB Khoiru Ummah

Bahan yang dirajut terlihat ada benang nilon, benang emas, dan agel. Agel yakni daun lontar (penduduk setempat menyebut daun gubeng) yang telah diproses sedemikian rupa melalui proses panjang menjadi helai tipis yang disambung-sambung dan sudah menjadi gulungan berwarna putih. Agel dihasilkan dari daerah setempat, sedang benang nilon dan benang emas adalah produk pabrikan. Tangan-tangan terampil merajut bahan-bahan tersebut untuk dijadikan tas-tas yang banyak djumpai di toko-toko souvenir.


Agel,  olahan daun lontar menjadi bahan rajutan seorang ibu peserta didik KB Khoiru Ummah yang natinya menjadi tas yang bernilai jual tinggi .

Seorang nenek yang menunggu cucunya tampak sudah terlihat bentuk rajutannya yakni sebuah  tas warna abu-abu yang sudah hampir selesai dengan benang nilon. Menurut penuturannya, ia sudah memulai dari semalam makanya sudah hampir jadi. Seorang ibu lainnya tampak sedang merajut benang emas dan baru dimulai ketika sampai di PAUD sekitar pukul 08.00, dan menjelang anak selesai kegiatan belajar sudah terlihat bentuk tas sekitar 50%. Ada sekitar 5 ibu lain merajut agel menjadi bentuk lembaran segi empat, bentuk melingkar untuk dijadikan tas juga.


Seorang nenek sambil menunggu cucunya belajar di KB Khoiru Ummah hampir menyelesaikan rajutannya berupa tas, bersama ibu-ibu lainnya.

Aktivitas ibu-ibu tersebut sungguh sangat produktif, sambil menunggu anak selesai belajar dapat melakukan aktivitas yang bermanfaat. Aktivitas mereka di samping memberikan manfaat ekonomis karena hasilnya akan dibeli oleh pengepul, tetapi juga mendidik dengan menunjukkan kepada anak secara langsung memanfaatkan waktu luang dengan bekerja. Produk rajutan Ibu-ibu tersebut selanjutnya oleh pengepul di-finishing dengan diberi pegangan, puring, rit, atau hiasan lainnya yang menarik pembeli dan berharga ratusan ribu bahkan di toko-toko klas atas menjadi berharga jutaan rupiah. Tetapi sayang pengepul menghargai hasil karya tangan-tangan terampil tesebut masih sangat rendah tidak sebanding dengan harga jual yang ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Meski demikian para ibu tetap senang karena menganggap merajut hanya sebagai pengisi waktu luang. 

Menurut Ibu Imas salah satu pendidik Kelompok Bermain Khoiru Ummah, setiap kali ketika beberapa ibu yang menunggu anak mengikuti kegiatan belajar terlihat  mojok sambil merajut. BIasanya jumlahnya tidak sebanyak hari itu. Pada hari tersebut jumlah ibu-ibu yang menunggu cukup banyak dikarenakan setelah kegiatan belajar anak, diadakan pertemuan untuk membicarakan pemberian konsumsi pekerja pembanguan gedung.  [br/fep]

Pewarta: Bakti Riyanta

Posted in Berita