Menu Close

FGD Pendidikan Keluarga Dinas Dikpora Kabupaten Bantul Pendidikan

Bantul (24/08/2018) Focus Group Discusstion (FGD) Kelompok Kerja (Pokja) Pendidikan Keluarga Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bantul. Kegiatan FGD Kamis, 23 Agustus 2018 dibuka oleh Drs. Totok Sudarto, M.Pd., Plh. Kepala Dinas Dikpora Kabupaten Bantul. Kegiatan FGD diihadiri oleh 25 orang peserta yang terdiri dari satuan pendidikan formal (SD dan SMP) dan Satuan Pendidikan Nonformal (SKB dan PKBM), Sekretaris Dinas Dikpora Kabupaten Bantul, Kepala Bidang SD, Kepala Bidang SMP, Kepala Bidang PAUD dan PNF, serta Kepala Seksi PAUD dan PNF.

Narasumber FGD berasal dari Dinas Dikpora Kabupaten Bantul Tatik Windari, S.Sos, M.S.E., Kabid PAUD dan PNF dengan moderator Rr. Dwi Suwarniningsih, S.Pd., Kasi Kurikulum PAUD dan PNF. FGD mengangkat tema Pendidikan Karakter Untuk Anak Usia Dini, dengan materi Implementasi Pendidikan Keluarga di Satuan Pendidikan di Bantul, dengan narasumber Dr. Ariefa Efianingrum dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Keluarga sebagai salah satu tri pusat pendidikan, merupakan lembaga pendidikan anak usia dini yang terdekat dengan kehidupan anak. Proses pembinaan tumbuh kembang anak usia dini secara menyeluruh, mencakup aspek fisik dan nonfisik. Memberian rangsangan bagi perkembangan mental, intelektual, emosional, moral, dan sosial.

Era cyber ditandai dengan munculnya fenomena sosial yang berbeda dengan era sebelumnya. Generasi digital memegang smartphone terlebih dahulu, baru mengenal sekolah. Orang tua dan guru mereka, mengenal sekolah dulu, baru berkenalan dengan smartphone. Anak-anak adalah digital natives, sementara orang tua atau guru adalah immigrants.

Problematika anak usia dini era cyber, intensitas interaksi anak dengan orang tua berkurang. Ikatan orang tua dengan anak melemah. Anak kurang mendapat kontak mata dan kasih sayang dari orang tua. Kompetensi sosial kian memudar. Pengembangan karakter anak menjadi lebih sulit dilakukan. Padahal golden age tidak dapat diulang kembali.

Teknologi tidak bisa menggantikan cinta kasih manusia. Perlu strategi pengembangan karakter yang tepat dan sesuai dengan konteks zaman. Karakter merupakan sikap seseorang yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari, berkaitan dengan moral.

“Kebijakan penguatan pendidikan karakter perlu menjadi spirit gerakan bersama dalam membangun karakter dan budaya bangsa melalui pendidikan. Metode yang digunakan meliputi penanaman nilai, pembiasaan, keteladanan, dan membangun relasi maupun  komunikasi dialogis, informatif, dan edukatif”, pungkas Dr. Ariefa Efianingrum.

Reporter: Sabatina Rukmi Widiasih

Editor: Fauzi Eko Pranyono

Posted in Berita