Menu Close

Dinamika Literasi Masyarakat Natah, Sebuah Transformasi Penyampaian Informasi dari Bentuk Cerita Tutur ke dalam Bentuk Dokumen Kampung

Masyarakat pedesaan pada umumnya memiliki kebiasaan menyampaikan informasi secara lisan. Hal ini seperti yang diungkapkan Joseph A. Devito, bahwa masyarakat desa memiliki karakteristik komunikasi antar pribadi yang biasanya berupa komunikasi mulut kemulut, tatap muka dan efek serta umpan balik langsung.

Masyarakat desa Natah sebagai lokasi Labsite kampung lIterasi oleh Balai Pengembangan PAUD dan Dikmas Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki karakteristik komunikasi yang menunjukkan karakter komunikasi pedesaan seperti pada paparan sebelumnya. Beberapa model komunikasi juga masih berupa gethok tular, sedangkan dalam beberapa hal yang formal, seperti rapat desa dan sebagainya sudah mulai menggunakan sistem surat menyurat.

Kekayaan dan potensi adat, seni dan kebudayaan di desa Natah sangat beragam. Hal tersebut terungkap pada saat proses penulisan dokumen kampung sebagai proses pembentukan kampung literasi. Penulisan dokumen sebagai salah satu pendekatan dan model yang dipergunakan untuk memberikan pembelajaran dan latihan kepada masyarakat tentang arti pentingnya baca tulis.

Upaya penulisan dokumen tersebut juga melatih warga untuk dapat secara mandiri dan kreatif sekaligus kritis menuangkan isu dan tema yang ada dalam masyarakat menjadi sebuah bentuk karya tulis. Masyarakat diharapkan mampu untuk belajar melalui proses literasi mengenai arti pentingya sebuah catatan tertulis  sebuah informasi. Hal ini terkait dengan keberlangsungan informasi yang disampaikan agar tetap runtut dan terjaga obyektifitasnya.

Penyampaian kaidah penulisan yang tidak terlalu kaku dan metode analisis SWOT yang dipergunakan sebagai kerangka awal penulisan juga perlu disampaikan secara lugas namun tetap berlandaskan cara penyampaian yang kontekstual dengan alur dan tata cara komunikasi warga. Salah satu tantangannya adalah penyampaian materi dalam model tersebut kepada warga yang sebagian merupakan warga berusia lanjut. Salah satu pendidik yang juga merupakan pengelola TBM “Song Keris” Awan Rohmadi, menyatakan bahwa salah satu kesulitan proses penulisan dokumen adalah ketika menyampaikan kaidah dan model analisis kepada warga yang memang sebagian berusia lanjut.

Terlepas dari tantangan yang ada, hasil dari proses penulisan dokumen merupakan sebuah langkah maju bagi masyarakat, utamanya sebagai upaya pelestarian kekayaan seni dan budaya yang produknya dapat berupa cerita rakyat, kepercayaan, seni pertunjukkan maupun makanan. Dengan tetap memasukkan beberapa aspek khas yang menjadi ciri produk dari masyarakat desa Natah. Misalnya produk tumpeng thiwul beserta resepnya, ingkung ayam kampung beserta kelengkapan khas desa Natah, tradisi pertunjukkan gejog lesung dan beberapa cerita mengenai kekayaan alam yang berbalut cerita rakyat dan mitos seperti Song Keris, Watu Mangol dan Watu Lawang.

Pewarta: Guntur Yoga

Posted in Berita