Menu Close

Sustainable Capacity Building Tutor Keaksaraan

Oleh: Agus Hari Prabowo, M.Pd

Dunia literasi atau keaksaraan adalah dunia mencerdaskan warga negara. Penduduk yang masih buta aksara dilibatkan dalam pembelajaran kontekstual dan fungsional. Artinya, pembelajaran harus sesuai dengan kehidupan, pengalaman, dan minat belajar mereka.

Menciptakan pembelajaran bagi warga buta aksara tidaklah mudah. Tutor keaksaraan adalah orang yang paling berperan dalam pembelajaran tersebut. Menyiapkan rencana pembelajaran, mengemas materi belajar, membuat bahan ajar dan media yang menarik, melaksanakan penilaian yang tepat, dan memotivasi warga belajar adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh tutor keaksaraan.

Meskipun terlihat sederhana, namun rangkaian kegiatan tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan. Banyak tutor keaksaraan yang melaksanakan pembelajaran baca, tulis, dan hitung seperti belajar bersama anak-anak. Sebagian mungkin tidak menyusun rencana pembelajaran padahal itu menjadi dasar dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Begitu pula dengan bagian-bagian lain dari kegiatan tersebut. Menganggap warga belajar sebagai objek pembelajaran –bukan subjek- adalah sebuah langkah yang tidak tepat.

Laiknya pendidik di program pembelajaran lainnya, tutor tentunya pernah dibekali dengan ilmu mengajar meskipun sederhana. Namun, terkadang apa yang diperoleh belum dapat diterapkan sepenuhnya dalam pembelajaran. Cakupan materi yang diperoleh mungkin tidak mendalam dan spesifik. Sementara itu, waktu pembekalan juga sangatlah minim.

Masalah ini, ke depannya, bisa diatasi. Salah satunya adalah dengan mengembangkan pola pembekalan berkelanjutan pada kemampuan tutor keaksaraan. Artinya, materi yang diperoleh dapat dipahami secara mendalam dengan pilihan waktu yang menyesuaikan anggaran. BP PAUD dan Dikmas DIY seharusnya dapat memetakan jumlah tutor keaksaraan yang ada sekaligus mengidentifikasi kemampuan awal pengelolaan pembelajaran para tutor itu. Secara berkelanjutan, proses peningkatan kapasitas/kemampuan dapat dilakukan (sustainable capacity building). Bisa saja dimulai dari menyusun rencana pembelajaran. Lalu berlanjut dengan menyusun dan mengembangkan bahan ajar, dan seterusnya.

Ada banyak pilihan cara yang bisa dilakukan sesuai tugas pokok lembaga BP PAUD dan Dikmas DIY. Workshop, diklat, penataran, bimbingan teknis, in house training, pendampingan teknis, dan lain sebagainya dapat diaplikasikan. Model blok lokasi maupun proporsi dapat dilakukan pula mengingat faktor urgensi kepentingan keaksaraan sendiri. Semua tergantung dari pimpinan lembaga BP PAUD dan Dikmas DIY sendiri. Bola panas sudah digulirkan, ide telah dibukakan, kita tunggu kebijakan selanjutnya!

Posted in Artikel