Menu Close

Semangat Bersama Menuju Kampung Wisata

Oleh: Agus Hari Prabowo

Desa Natah, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul merupakan labsite kampung literasi BP PAUD dan Dikmas DIY. Kampung ini diharapkan dapat berkembang menjadi kampung wisata edukasi. Proses pengembangannya dilakukan dengan belajar sesama warga masyarakat. Belajar tentang segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai modal meraih cita-cita sebagai kampung wisata edukatif.

Setahun yang lalu, kampung literasi ini masih berbentuk rintisan. Peran taman bacaan masyarakat (TBM) menjadi jantung dari proses belajar yang dijalani. Belajar dari membaca berbagai informasi agar terasah kemampuan baca, tulis dan berhitung. Selanjutnya, literasi berkembang ke arah yang yang dibutuhkan warga. Ada literasi ekonomi, budaya, sains, dan teknologi. Semua mengarah kepada pembentukan kampung wisata edukatif.

Menjadi kampung wisata edukatif telah menjadi impian yang benar-benar ingin diwujudkan warga Natah. Meskipun pelan namun semangat itu kentara dalam tindakan mereka. Ini terlihat dari ujicoba konseptual yang baru saja dilaksanakan. Walau sesaat namun ujicoba tersebut sudah ditindaklanjuti secara mandiri oleh warga masyarakat.

Saat ini, warga di RT 01 tengah mulai berbenah. Berlatih gejog lesung bahkan sudah dimulai. Sementara itu, warga yang lain berusaha menggali kisah-kisah inspiratif tentang kearifan lokal. Kisah itu akan dikemas dalam naskah pertunjukan bagi pengunjung. Tentu saja muatan edukasinya juga menonjol. Padu padan pertunjukan itu akan diiringi orkes gejog lesung yang indah dan merdu.

Pada saat yang sama, warga RT 03 tidak mau kalah juga. Mereka mulai menjelajah menu-menu kuliner warisan leluhur dan mengembangkannya dalam cita rasa kekinian. Mungkin dari satu bahan baku kuliner bisa menghasilkan sejuta menu baru. Tentu saja menu yang tidak akan mengecewakan lidah para pengunjung. Tidak hanya kuliner, beberapa ibu dan perempuan juga mulai mengasah keterampilan mereka. Ada keterampilan batik yang mulai menggeliat dan menembus pesanan pasar. Namun, kemampuan membatik harus terus ditingkatkan agar mencapai kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Sebagian warga yang lain juga mulai bergerak untuk melengkapi kampung dengan fasilitas pendukung yang baik dan layak bagi pengunjung. Basecamp atau markas sudah mulai dipilihkan lokasi. Rancang bangun akomodasi mulai dipikirkan. Semua bergerak saling mendukung dan melengkapi. Kemandirian ini adalah wujud semangat yang berkobar. Apapun yang terjadi cita-cita menjadi kampung wisata edukatif harus terwujud. Tentu saja peran semua pihak sangat dibutuhkan. Bersama semua bisa!

Posted in Artikel