Menu Close

Permainan Tradisional Dukung Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Kearifan Lokal

Oleh: Frista Zeuny

Masa anak usia dini, merupakan masa emas dalam pembentukan dan perkembangan sel otak anak sebagai pusat kecerdasan.  Masa ini terjadi dengan sangat cepat, sebab perkembangan otak anak di usia dini telah  mencapai delapan puluh persen dari otak orang dewasa. Inilah mengapa disebut sebagai masa emas atau golden age, dan pembentukan tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan. Sebab, pendidikan merupakan sarana penting untuk membangun karakter. Oleh karenanya, pendidikan hendaknya dilakukan sedari dini. Tidak hanya kecerdasan akademik yang didapatkan dalam sebuah pendidikan, namun juga nilai-nilai kebaikan juga bisa didapatkan melalui praktek perilaku sehari-hari. Bahkan, permainan tradisional pun juga memiliki arti penting dalam membentuk karakater.

Seperti yang dikatakan oleh Thomas Lickona (2016 : 16), yang menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.  Sedangkan menurut Anwar (2004 : 12), karakter merupakan nilai-nilail perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Tradisi permainan tradisional merupakan aset warisan budaya yang tidak ternilai harganya. Di dalamnya terkandung  nilai-nilai, seperti nilai sosial yang mengajarkan kekompakan, kerjasama, solidaritas, tolong menolong, hingga mampu menerima kekalahan. Di samping itu, permainan tradisional juga melatih seseorang untuk mampu berpikir cepat dalam mengambil keputusan, logis, kritis, dan seimbang. Secara tidak langsung, permainan tradisional ini mengajarkan pemainnya membentuk fisik, mental, dan juga pribadinya.

Di Yogyakarta, permainan tradisional sering digunakan untuk penerapan pendidikan anak usia dini. Misalnya anak-anak diajarkan oleh guru bermain dakon, ancak-ancak alis, engkling  atau engklek, petak umpet, dan dingklik oglak-aglik.  Permainan tersebut memiliki filosofi tersendiri dalam setiap gerakan yang dilakukan.  Seperti pada permainan dakon atau yang sering disebut congklak, memiliki makna filosofi yang mendalam. Dikutip dari www.jogja.tribunnews.com, permainan tersebut mengajarkan kepada anak untuk bersikap jujur, ketepatan, ketelitian, berhitung, dan kesabaran.  Sebab, permainan tersebut mengharuskan pemainnya untuk mengumpulkan biji sebanyak-banyaknya dengan cara dan aturan yang berlaku dalam permainan tersebut.

Sedangkan permainan ancak-ancak alis mengajarkan anak untuk mencintai pertanian, dimana Indonesia merupakan negara agraris yang juga mempunyai kekayaan alam melimpah.  Seperti dikutip dari laman www.readykaryailmiah.blogspot.com, ancak-ancak alis yang permainannya mirip dengan ular naga ini juga menggunakan lagu berbahasa Jawa, yang berisikan tentang petani yang sedang menanam padi dari membajak sawah hingga panen. Lagu yang dinyanyikan tersebut dapat menjadi ajang pengetahuan bagi anak tentang petani yang menanam padi secara tradisional, sehingga mereka bisa mengetahui bahwa menanam padi adalah sesuatu hal yang berat, dan kemudian muncul rasa penghargaan kepada petani yang sudah susah payah menanam padi. Dengan demikian, mereka juga akan lebih menghargai keberadaan nasi sebagai bahan pokok makanan rakyat Indonesia, sehingga diharapkan anak-anak tidak membuang-buang makanan.

Permainan engkling atau engklek ini biasanya dilakukan oleh dua orang atau lebih. Dilansir dari https://www.kompasiana.com/nindaratri, permainan engkling atau engklek memiliki pengaruh dalam perkembangan aspek anak usia dini, yaitu paling menonjol adalah saraf motorik kasar. Selain itu, permainan tersebut juga memiliki beberapa pengaruh seorang anak dalam mengenal bidang datar, mengenal simbol-simbol nomor yang tertera pada kotak permainan, mengajarkan anak bersosialisasi, melatih anak lebih kreatif, melatih anak mampu memecahkan masalah, dan melatih kesabaran. Jadi, meski bermain engklek ini sederhana,  namun mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk karakter anak.

Sementara untuk permainan petak umpet, juga mempunyai manfaat dan pengaruh yang tak kalah penting dengan permainan tradisional lain  yang telah dibahas sebelumnya. Permainan petak umpet ini merupakan permainan sejenis permainan cari dan sembunyi yang bisa dimainkan minimal dua orang, yang pada umumnya dilakukan di luar ruangan. Dikutip dari laman https://www.kompasiana.com/roroanjani , permainan petak umpet mempunyai pengaruh dalam membentuk kognitif anak.  Di samping merupakan permainan yang menyenangkan, petak umpet juga dapat mengajarkan anak untuk bersosialisasi, berdiskusi, menghafal perhitungan, dan sportifitas. Meski merupakan permainan yang tergolong aman, namun juga perlu pengawasan dari orangtua atau guru.

Permainan dingklik oglak-aglik ini merupakan permainan Jawa yang memiliki arti kursi atau bangku yang goyang. Filosofi dari permainan dingklik oglak-aglik ini adalah pengajaran tentang kekompakan, kerja sama, dan ketahanan dalam suatu kelompok. Seperti dikutip dari www.mikirbae.com, permainan dingklik oglak-aglik ini identik dengan kepemimpinan, dimana siapa saja boleh dan berhak menjadi pemimpin tanpa adanya syarat dan saling menjatuhkan.

Dari berberapa contoh permainan tradisional yang sudah dibahas, dapat disimpulkan secara garis besar bahwa setiap permainan tersebut mengajarkan untuk kompak, kolaborasi, dan bersosialisasi. Kolaborasi ini menjadi salah satu aspek penting dalam membangun generasi di masa depan yang identik dengan era industri 4.0, di samping komunikasi, kreativitas dan kemampuan untuk berpikir kritis. Pengajar PAUD maupun pihak terkait dalam hal ini pemerintah setempat, dapat mengaplikasikan beberapa permainan tradisional tersebut sebagai upaya untuk membentuk karakter anak dan pelestarian budaya. Pembelajaran PAUD dapat menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan akan membentuk anak-anak yang bahagia.

Ditulis oleh Frista Zeuny, Penyiar Radio Edukasi Balai Pengembangan Media Radio Pendidikan dan Kebudayaan

Posted in Artikel