Menu Close

Pelita di Ngarai Nan Jauh

Oleh: Agus Hari Prabowo

Meskipun bukan termasuk provinsi yang luas, namun Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki lanskap wilayah yang beragam. Gunung, pegunungan, kota, desa, dan pantai semua ada di sini. Wilayah subur hingga kering dan gersang juga ada. Begitu pula ragam budaya yang berkembang, ibarat Indonesia dalam bentuk mini.

Salah satu wilayah yang jauh dari keramaian dengan balutan bukit-bukit gersang adalah wilayah Desa Girisuko, Panggang, Gunungkidul. Desa ini ada di ngarai jajaran bukit seribu. Siapa sangka di ngarai ini banyak dihuni oleh penduduk yang mayoritasnya menjadi petani dan tukang kayu.

Banyaknya penduduk bermatapencaharian sebagai petani dan tukang kayu menunjukkan tingkat pendidikan yang relatif rendah. Perspektif pendidikan sebagai kebutuhan belum banyak dimiliki oleh penduduk. Bisa bertahan hidup dengan potensi alam yang tersedia dianggap sudah cukup.

Di tengah kondisi tersebut lahirlah sebuah lembaga pendidikan nonformal. PKBM Suko Makmur namanya. PKBM ini lahir dan menyelenggarakan berbagai program pendidikan. PAUD, kesetaraan, keaksaraan, kelompok usaha, keterampilan/lifeskills, dan pemberdayaan perempuan menjadi unggulan. Bahkan bidang sosial dalam program keluarga harapan (PKH) dilakukan.

Beragam program yang diselenggarakan sejak PKBM berdiri 2006 memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat Desa Girisuko. Kesadaran untuk selalu belajar selama hayat dikandung badan mulai tumbuh. Belajar tidak mengenal usia, tempat dan materi. Apapun akan dipelajari selama materi itu menarik dan dibutuhkan masyarakat.

Keberadaan PKBM Suko Makmur, meski belum terakreditasi, ibarat pelita di tengah ngarai nan jauh dan sepi. Fajar Sodiq dan Ismiyati, sekretaris dan bendahara PKBM Suko Makmur adalah tokoh yang menjadi ujung tombak hampir semua kegiatan. Pasangan suami istri ini sangat konsen dan senang manakala selalu ada ajang belajar bagi masyarakat Girisuko. Semakin banyak belajar (apapun) akan semakin mendapatkan pengetahuan. Apalagi saat ini banyak keluarga yang ditinggal merantau ke Sumatera bekerja di perkebunan sawit sehingga harus diperhatikan pendidikan anak-anak yang ada di desa.

Posted in Artikel