Menu Close

Menghadapi Anak Yang Tak Mau Sekolah

Sekolah merupakan rumah kedua bagi anak-anak. Aspek kenyaman, keamanan dan mampu mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak secara kondusif, tentunya jadi syarat utama dari sebuah sekolah. Namun sayang kenyataannya tak selalu demikian.

Banyak kasus anak-anak yang justru mendapat kekerasan di sekolah. Bukan merasa aman, anak malah justru takut ke sekolah. Hal ini jadi sorotan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi.

Ia memperingatkan para orang tua untuk tidak memaksa atau memarahi anak jika ia tidak mau sekolah. Bisa jadi anak sedang mengalami school phobia atau takut ke sekolah. Hal ini harus dilihat dua sisi, baik dari pengalaman anak maupun kondisi sekolah. Maka untuk orang tua diharap untuk tidak mengambil kesimpulan sendiri.

Yang disayangkan adalah jika dengan adanya masalah itu membuat anak menjadi tidak mampu untuk menjalin hubungan sosial yang baik dengan teman sebayanya, dikarenakan ketakutannya akan sekolah. Tidak hanya dengan teman sebayanya, tetapi juga dengan guru – guru pengajar.

Takut ke sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau pun hilang ketika “masa keberangkatan” sudah lewat atau pada hari Minggu atau hari libur. Takut ke sekolah dapat sewaktu-waktu dialami oleh setiap anak hingga usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru atau pun ketika ia menghadapi suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolah.

Anak yang kurang nyaman berada di sekolah dapat dilihat dari gerak tubuh dan mimik wajahnya. Bisa diperhatikan ketika berbicara dengan orang lain, beberapa anak akan susah terfokus pada lawan bicara dan hanya tersenyum-senyum sambil menggerakkan kepalanya, gerakkannya pun kaku dengan pandangan kosong lurus ke depan. Ada beberapa tanda lain yang dapat dijadikan sebagai kriteria school phobia, yaitu :

  1. Menolak untuk berangkat sekolah
  2. Mau datang ke sekolah, tetapi tidak lama kemudian minta pulang
  3. Pergi ke sekolah dengan menangis, menempel terus dengan orang tua atau pengasuhnya, atau menunjukkan tantrum-nya seperti menjerit-jerit di kelas, agresif terhadap anak lainnya (memukul, menggigit, dsb) atau pun menunjukkan sikap-sikap melawan/menentang gurunya
  4. Menunjukkan ekspresi/raut wajah sedemikian rupa untuk meminta belas kasih guru agar diijinkan pulang dan ini berlangsung selama periode tertentu
  5. Keluhan fisik yang sering dijadikan alasan seperti sakit perut, sakit kepala, pusing, mual, muntah-muntah, diare, gatal-gatal, gemetaran, keringatan, atau keluhan lainnya. Anak berharap dengan mengemukakan alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal di rumah
  6. Mengemukakan keluhan lain (diluar keluhan fisik) dengan tujuan tidak usah berangkat ke sekolah
  7. Senang berdiam diri di dalam kamar dan kurang mau bergaul

Permasalahan anak yang takut ke sekolah cukuplah rumit karena ada pemikiran dari anak untuk tidak terbuka terhadap permasalahnya. Sebagai orang tua jangan lantas memarahi saat anak tak mau sekolah, justru orang tua harus lebih aktif mencari tahu sebabnya. Bisa berkonsultasi dengan pihak sekolah atau mendengarkan pendapat anak lebih terbuka. Ketika anak tidak mau sekolah, bukan berarti ia tak mau mencari ilmu. Kondisi tersebut tak bisa dipaksakan dan harus segera dicarikan akar permasalahan serta solusinya.

Orang tua dapat bekerja sama dengan guru, wali kelas, juga wali murid lain untuk mencari tahu tentang masalah yang sedang dihadapi anak terkait pobia sekolah, kemudian bekerja sama juga untuk menyelesaikannya. Apabila dirasa masalah tersebut sudah tidak dapat ditangani oleh pihak orang tua dan sekolah, maka sebaiknya merujuk anak ke psikolog adalah pilihan yang tepat.

Jadi, ketika anak tidak mau sekolah, jangan langsung dipaksa apalagi sampai menghakimi sebelah pihak. Karena sebenarnya, anak hanya tidak mau sekolah, bukan tidak mau belajar. Pada dasarnya, anak itu suka belajar sebab dari awal masa pertumbuhan ia selalu belajar, seperti belajar jalan, membaca, dan lain-lain. Sehingga yang perlu diperbaiki adalah sumber belajarnya.

Ditulis oleh Frista Zeuny / Radio Edukasi BPMRPK Yogyakarta

Sumber :

https://www.kompasiana.com/miss.rochma/550098f08133110b1afa78b0/contoh-kasus-takut ke-sekolah-dan-penanganannya

https://parenting.dream.co.id/ibu-dan-anak/pesan-kak-seto-untuk-orangtua-yang-anaknya-tak-mau-sekolah-180321h.htmlhttps://dosenpsikologi.com/cara-menghadapi-anak-tidak-mau-sekolah
Posted in Artikel