Menu Close

Mendidik Anak Supaya Tidak Menjadi Pem-bully

Dalam kehidupan bersosialisasi, pasti ada saja masalah yang akan ditemui. Masalah tidak hanya terjadi pada orang dewasa, melainkan juga anak-anak. Salah satu masalah yang bisa muncul adalah perilaku bullying.

Setiap orang tua tentu tidak ingin anaknya menjadi korban bullying. Sebab hal itu dapat memberikan pengaruh buruk bagi perkembangan mental dan perilaku anak. Maka dari itu, orang tua harus memberikan pemahaman yang baik agar anak bisa menghindari perilaku bullying.

Akan tetapi, bukan berati ketika anak bebas dari bullying kemudian masalahnya berhenti sampai disitu. Bisa jadi anak adalah pelaku bullying karena dirinya merasa hebat dibandingkan dengan teman-temannya. Orang tua tentu juga tidak ingin anaknya menjadi seperti itu. Lantas, bagaimana orang tua harus mengambil sikap dalam menghadapi permasalahan tersebut?

Memahami perilaku bullying

Anak melakukan bullying karena banyak faktor, salah satunya karena anak merasa tidak aman. Mem-bully orang yang terlihat lebih lemah memberi rasa menjadi lebih penting, terkenal, dan berkuasa. Di sisi lain, anak mem-bully semata karena tidak tahu kalau tidak boleh meledek anak yang berbeda penampilan, ras, atau agama.

Pada beberapa kasus, bullying termasuk bagian dari perilaku agresif. Anak yang menjadi pem-bully kemungkinan membutuhkan bantuan dalam mengatur rasa marah, frustasi, atau emosi yang kuat lainnya. Kemungkinan yang lain adalalah ketidakmampuan untuk bekerja sama dengan orang lain.

Anak yang sering menyaksikan interaksi agresif di keluarga biasanya memperlakukan orang lain dengan cara serupa. Apabila hal demikian terjadi, maka konseling dapat membantu dan memperbaiki kemampuan sosial anak.

Bullying bisa dalam bentuk fisik atau verbal, bila tidak dihentikan akan memicu perilaku antisosial agresif, hal itu juga dapat mengganggu keberhasilan anak di sekolah dan kemampuannya untuk berteman.

Membantu anak berhenti mem-bully

Sebagai orang tua, sebaiknya mengajarkan anak bahwa bullying bukanlah perilaku yang baik dan ada konsekuensi serius ketika hal tersebut dilakukan, baik dalam rumah, sekolah, maupun lingkungan luar lainnya.

Beberapa hal yang dapat orang tua lakukan agar anak tidak mem-bully temannya :

  • Orang tua hendaknya memberikan pemahaman kepada anak melalui komunikasi dua arah mengenai perilaku bullying, misalnya dengan menggunakan media film.

Ajak anak berdiskusi mengenai perasaan korban bully dari film yang ditonton, dan tanyakan balik pada anak apabila ia berada diposisi korban. Melalui diskusi tersebut, orang pun bisa mengungkapkan perasaan mereka bila mengetahui anaknya menjadi korban bully. Orang tua bisa sharing perasaan sedih ketika mengetahui anak yang begitu dijaganya ternyata menjadi korban bully teman – temannya di sekolah.

  • Pastikan anak memahami bahwa tidak ada tolerir bullying di rumah atau dimanapun.

Buat aturan tentang bullying. Sesekali, orang tua perlu memberi hukuman tegas pada anak dengan mengambil haknya, dan pastikan ia merasakan efeknya. Misalnya, apabila anak mem-bully melalui pesan atau media sosial, jangan bolehkan ia menggunakan komputer, laptop maupun smartphone untuk sementara waktu. Bila anak bertingkah agresif di rumah, ajarkan cara bereaksi yang lebih tepat.

  • Pelajari kehidupan sosial anak.

Mencoba mencari tahu faktor yang mempengaruhi perilaku anak di lingkungan sekolahnya atau dimana peristiwa bullying itu terjadi. Orang tua sebaiknya lebih banyak mendengar dan mengenali anak. Sesekali, mintalah untuk mempersilakan teman – temannya main ke rumah, jika diketahui ada teman yang suka mem-bully maka orang tua dapat mengajarkan anak bagaimana semestinya harus bersikap secara bijaksana.

  • Ajarkan anak untuk menghormati orang lain.

Beritahu anak untuk tidak mempermasalahkan perbedaan, misalnya ras, agama, penampilan, gender, atau status ekonomi, dan coba tanamkan empati pada orang yang memiliki perbedaan. Beritahu pada anak bahwa setiap orang memiliki keunikan masing – masing, dan tekankan untuk memperlakukan semu orang dengan baik.

  • Berikan contoh yang baik.

Sebagai orang tua hendaknya berhati-hati dalam berbicara dan menghadapi konflik di sekitar anak. Apabila orang tua terlalu agresif di depan anak, kemungkinan anak pun akan meniru. Sebaiknya tunjukkanlah perilaku yang positif.

  • Dukung perilaku positif.

Dukungan positif bisa lebih kuat dari disipin negatif. Ketahui momen ketika anak berperilaku baik, dan saat mengatasi situasi dengan cara yang positif, lalu beri pujian. Hal itu akan memotivasi anak untuk terus berbuat baik keesokan harinya.

Mulai dari rumah

Ketika mendapati anak bersikap sebagai pem-bully jangan langsung menyalahkan lingkungan, pertama lihat apa yang terjadi di rumah. Anak yang terbiasa dengan teriakan atau kemarahan fisik dari saudara kandung atau orang tua akan bertindak serupa.

Perkelahian antara kakak beradik memang wajar terjadi, akan tetapi jika sudah terjadi name-calling hingga kekerasan fisik, tentu orang tua perlu turun tangan. Jangan sampai hal tersebut menjadi kebiasaan buruk ketika anak mengalami emosi.

Orang tua pun perlu memperhatikan cara bersikap. Seperti ketika berbicara pada lawan bicara, terutama anak. Apabila tidak suka dengan perilaku anak, maka tekankan untuk merubah bukan hanya memarahi tanpa memberi solusi. Hal tersebut akan membuat anak enggan untuk mencari solusi dalam setiap masalah.

Untuk membantu anak berhenti mem-bully, bicaralah pada guru atau kepala sekolah yang bisa mengidentifikasi situasi yang memicu bullying dan memberi bantuan. Bila anak mempunyai riwayat dalam mengontrol marah, coba konsultasikan ke terapis atau orang yang ahli dalam kesehatan perilaku.

Berurusan dengan bullying bisa mengganggu rasa percaya diri anak. Untuk mengatasinya, mintalah anak untuk berteman dengan teman yang memiliki pengaruh positif. Ajak ia berpartisipasi di kegiatan olahraga atau aktivitas menyenangkan lain untuk membangun kekuatan dan pertemanan.

Dan berilah contoh apabila kekerasan fisik, name-calling, dan menyalahkan tidak akan pernah menjadi solusi masalah. Sehingga perlahan anak bisa mengerti bila perilaku bullying bukanlah perbuatan baik. Tindakan itu dapat menyakiti dan melukai perasaan orang lan.

Selain memberikan pemahaman, orang tua perlu memerhatikan kondisi lingkungan sosial di sekitar anaknya. Alasannya karena anak bisa menjadi seorang pem-bully lantaran sudah lebih dahulu menjadi korban. Dengan begitu orang tua juga bisa memberikan pemahaman lain kepada anak tentang cara menghindari perilaku bullying yang diterimanya di tempat lain.

Penulis Frista Zeuny / Radio Edukasi / BPMRPK Yogyakarta

Sumber:

https://www.halodoc.com/supaya-anak-tidak-jadi-pembully-begini-cara-mendidiknya
https://lifestyle.okezone.com/read/2018/05/04/196/1894428/inilah-cara-yang-perlu-dilakukan-orangtua-agar-anak-tidak-jadi-pembully
https://www.ibupedia.com/artikel/balita/peran-orangtua-agar-anak-tidak-dibully-atau-membully
Posted in Artikel