Menu Close

Komitmen dan Apresiasi dalam Membangun Keluarga Bahagia dan Sejahtera

Oleh: Hikmat Widayat dan Hasiyati

Banyak orang telah mampu membicarakan komitmen. Sejatinya, komitmen adalah sebuah kesepakatan atau perjanjian untuk melakukan sesuai di masa depan atau sesuatu yang telah disepakati sebelumnya. Lebih lagi dijelaskan bahwa komitmen merupakan suatu keteguhan untuk berjanji kepada diri sendiri yang akan mengacu dan merangsang seseorang untuk terus berjuang dalam mencapai target yang dicita-citakan serta tidak akan berhenti sebelum target tersebut tercapai.

A. Pentingnya Komitmen dalam Pernikahan

Komitmen dalam pernikahan melebihi komitmen dalam perjanjian apapun. Islam memandangan pernikahan sebagai komitmen yang kokoh, sejajar komitmen Allah dengan para nabiNya. Oleh karena itu, suami istri harus bertanggung jawab untuk menjaga komitmen yang diucapkan pada ijab kabul secara Islam, dan penerimaan Sakramen Perkawinan dalam agama Katholik. Menjaga komitmen berarti berupaya merawat cinta dan kasih sayang yang telah Allah Tuhan Yang Maha Esa, tiupkan ke dalam sanubari, ketentraman akan dirasakan, tetapi sebaliknya, jika mengabaikan komitmen berarti menyia-nyiakan anugerah yang telah diberikan sehingga ketentraman tidak pernah didapatkan.

Bila mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan, ada 7 hal penting dalam pernikahan yang harus segera disudahi agar hal itu tidak sampai menghancurkan pernikahan.

  1. Kekerasan dalam rumah tangga

Seorang istri tidak berhak mendapatkan perlakukan kasar dari suaminya. Suami dan istri adalah rekan yang saling membutuhkan. Oleh karena itu, berbagai macam bentuk kekerasan dalam rumah tangga baik yang dilakukan secara fisik maupun kata-kata harus segera dihentikan. Kekerasan di dalam rumah tangga sangat tidak manusiawi dan itu sangat mengerikan.

  1. Perselingkuhan

Perselingkuhan adalah sebuah pengkhianatan, ketika salah satu pasangan mengkhianati rekannya. Tidak ada kebahagiaan sejati yang bisa dirasakan oleh mereka yang mengkhianati pasangannya, kesenangan yang dirasakannya hanya bersifat sementara namun mengandung dosa besar kebahagiaan sejati dalam rumah tangga hanya bisa diperoleh melalui sikap saling setia.

  1. Kurang komunikasi

Sebagai rekan dalam kehidupan pernikahan hendaknya suami istri tidak mengabaikan pentingnya komunikasi. Melalui komunikasi yang baik segala macam permasalahan serta kesalahpahaman akan bisa diatasi dengan baik.

  1. Ketidakjujuran

Ibarat membangun sebuah rumah di atas batu karang, membangun sebuah hubungan yang sehat harus dilandasi kejujuran, tanpanya mustahil kebahagiaan yang sejati dapat terwujud. Dalam sebuah pernikahan, kejujuran adalah batu karang itu. Sikap saling terbuka di antara setiap pasangan tidak akan memberi peluang bagi kecurigaan dan prasangka buruk tumbuh di dalam kehidupan pernikahan.

  1. Sikap egois dan mementingkan diri sendiri

Sebuah hubungan pernikahan, setiap pasangan wajib untuk saling peduli dan memerhatikan satu sama lain. Segala bentuk keegoisan dan sikap mementingkan diri sendiri dapat menghancurkan hubungan tersebut. Dengan demikian, bila suami istri memiliki satu tujuan, tidak hanya suami istri yang berbahagia tetapi juga seluruh anggota keluarga.

  1. Pornografi dan narkoba

Pornografi dan narkoba adalah tidak bermoral dan sangat merendahkan martabat diri sendiri. Berbagai macam cemoohan dan tudingan miring dari masyarakat akan diterima, dampaknya seluruh anggota keluarga akan merasakannya.

  1. Ketidakpedulian

Sebagai nahkoda dalam sebuah batera rumah tangga, suami istri wajib untuk menunjukkan rasa kepedulian mereka terhadap satu sama lain sebagai perwujudan rasa tanggung jawab dan kasih. Namun, bila salah satu pasangan atau bahkan keduanya sudah tidak lagi saling peduli, maka mereka tidak akan pernah tahu ke mana akan menyandarkan bahtera mereka.

B. Pentingkah Komitmen?

  1. Pertanyaan Komitmen

Idealnya, pasangan suami istri menentukan komitmen atau kesepakatan sebelum mereka menikah. Berikut adalah contoh beberapa pertanyaan komitmen yang perlu dibicarakan.

a. Siapa bendaharanya?

Hal terpenting adalah transaparansi antara calon suami dan calon istri. Kedua belah pihak sama-sama tahu penghasilan masing-masing, dan yang paling penting adalah cara memaksimalkans serta mengatur uang tersebut. Terdapat beberapa konsep yang dapat diatur dan dijalankan bersama-sama. Sebelum menyerahkan gaji kepada istri, suami sebaiknya menentukan anggaran per bulan untuk dirinya sendiri. Gaji yang diserahkan kepada istrinya untuk kebutuhan bersama. Kedua belah pihak harus pintar mengatur agar satu sama lain tidak begitu bergantung. Sangat perlu membuat anggaran keuangan bulanan yang jelas, mulai dari biaya listrik, telepon, air, makan, pendidikan, pendidikan anak, kesehatan, rekreasi, tabungan, dan hal lain yang tidak terduga.

b. Tinggal dimana?

Tak jarang, lantara belum punya tempat tinggal sendiri, pasangan suami istri masih tinggal di rumah orang tua atau mertua. Idelanya dalam satu rumah ada satu keluarga dengan satu kepala keluarga. Jika satu rumah ada lebih dari satu kepala keluarga, sudah tidak sehat. Jika tinggal di rumah sendiri, pasangan suami istri memiliki kemandirian untuk mengatur rumah tangga, mulai dari mengatur keuangan, tata letak rumah, hingga kondisi rumah. Sebaliknya, berikut hal-hal yang mungkin terjadi jika tinggal dengan mertua adalah:

  • Tidak memiliki keleluasaan untuk melakukan eksperimen sediri, seperti mengatur rumah karena harus tergantung pada pemilik rumah, yaitu mertua.
  • Perlu penyesuaian. Jika belum lama begitu lama mengenal mertua, proses penyesuaian mungkin akan mengalami gesekan antara menantu dengan mertua.
  • Perlu membatasi dan menguasai diri untuk dapat cocok dengan mertua.
  • Dalam segi keuangan, biasanya jika anak masih bekerja sedangkan orangtua tidak, anak lebih banyak mendukung orangtua. Begitu juga sebaliknya, jika orangtua sangat mapan dan anaknya belum, orangtua lebih mensupport anak.

c. Punya Anak atau Tidak

Hal ini perlu dibahas sebelum menikah. Jangan sampai setelah menikah, salah satu dari pasangan ingin segera memiliki anak, pasangan lainnya tidak. Jika ingin memiliki anak, sebaiknya pasangan suami istri melakukan tes kesehatan pranikah.

d. Istri bekerja atau jadi ibu rumah tangga?

Pertannyaan ini berhubungan dengan kondisi ekonomi. Jika sebelum calon istri telah bekerja dan suami tetap menginginkan istri bekerja, istri perlu pintar membagi waktu antara pekerjaan dan rumaht angga. Apalagi jika kelak memiliki anak. Kendati edmikian, mengurus rumah tangga dan anak tidak dibebankan sepenuhnya kepada istri. Idealnya, rumah tangga dan anak dapat dikerjakan berdua.

  1. Menyempurnakan Komitmen

Telah disadari bersama bahwa komitmen adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Komitmen adalah hal yang lebih berat dari sebuah janji dan tepat waktu. Komitmen berbicara tentang seluruh aspek kehidupan manusia yang pada akhirnya berjalan beriringan dengan pencapaian visi misi hidup dalam membangun sebuah keluarga. Tidak dipungkiri bahwa komitmen dalam sebuah pernikahan jauh lebih rumit daripada komitmen sebuah pekerjaan. Berikut adalah tips sederhana untuk menyempurnakan komitmen sebuah pernikahan.

a. Mengenal karakter masing-masing

Pernikahan adalah penyatuan dua karakter manusia yang berbeda. Pengenalan karakter ini tidak dapat dilakukan dalam waktu yang sebentar. Butuh kesabaran selama proses pengenalan karakter berlangsung. Tentunya, karakter besar dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diyakini serta perilaku lingkungan terdekat.

b. Pemeliharaan kasih sayang

Bila karakteri salah satu topik yang tidak dapat terhindarkan, maka kasih sayang pun adalah hal penting dalam upaya menjaga komitmen. Secara logika, antara karakter dan kasih sayang memiliki keterikatan yang tidak putus. Bila kasing sayang terbangun sempurna, pengenalan karakter bukan hal sulit yang dilakukan. Karena dalam upaya pengenalan karakter, dibutuhkan kasih sayang antara dua insan.

Kasih sayang dapat diwujudkan dalam beberapa cara sederhana. Seperti Rasulullah SAW yang menyapa Aisyah dengan panggilan yang memanjakan, dengan gelar yang menyenangkan. Suami atau istri harus menampilkan sosok diri dan pribadi yang dapat menumbuhkan rasa tenteram, senang, dan kerinduan.

c. Penataan ekonomi

Bukan hal yang tabu lagi bila ekonomi menjadi pertimbangan sebelum bersepakat membangun keluarga. Sebagian calon suami maupun calon istri menyepakati beberapa hal, termasuk di dalamnya adalah penataan ekonomi. Dalam Islam telah dijelaskan dan ditegaskan bahwa suami memiliki tanggung jawab dan kewajiban memberi nafkah kepada keluarganya. Namun selalu tidak menutup kemungkinan bagi istri untuk membantu suami dalam kegiatan penataan ekonomi rumah tangga. Selama sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan syariah Islam yang ditetapkan.

d. Pembagian beban

Beban yang dimaksud adalah tanggung jawab dalam keluarga. Bukan hanya hal nafkah menafkahi, namun kepada tanggung jawab dan tugas dalam rumah tangga. Meski istri memiliki beban mengurusi rumah tangga dan anak-anak, tetapi bukan berarti suami tidak memiliki tugas tersebut. Saling tolong menolong, saling mengasihi, mengutamakan kepentingan orang lain, dan tentunya saling berbagi peran dalam segala aspek kehidupan dalam rumah tangga. Seperti teladan yang telah ditunjukkan Rasulullah dalam sebuah riwayat shahih, cara beliau bercengkrama dengan anak cucu, menyapu rumah, bahkan menjahit baju yang koyak. Hal itu hanya beberapa contoh peran sang istri yang Rasulullah SAW ambil alih sebagai salah satu pembagian tanggung jawab di dalam rumah tangga.

e. Penyegaran

Tidak dipungkiri bahwa manusia akan mengalami kejenuhan. Jenuh bisa karena rutinitas yang tidak pernah berhenti dan selalu sama setiap harinya. Rehat sejenak menjadi pilihan bagi sebuah keluarga untuk meningkatkan kebugaran diri yang telah direnggut untuk menyelesaikan rutinitas sehari-hari. Lebih dari itu, ketika penyegaran dilaksanakan, banyak hal yang perlu diingatkan kembali. Cara bercanda, melepaskan diri dari rutinitas, dan tentu saja diskusi ringan antara anggota keluarga. Bisa jadi, belanja bersama menjadi rutinitas kecil sebagai cara penyegaran yang sederhana yang bisa dilakukan di sela-sela waktu liburan yang singkat.

Beberapa hal di atas merupakan cara-cara untuk membangun komitmen bersama. Berikut adalah perilaku pencerminan komitmen yang telah dibuat.

  1. Saling mencintai antar sesama anggota keluarga
  2. Saling menghormati antar sesama anggota keluarga
  3. Saling bersikap terbuka dan jujur antar anggota keluarga
  4. Saling menjaga perasaan dan suasana dalam komunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga sehingga tercipta saling pengertian satu sama lain dalam upaya menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga
  5. Mengakui keberadaan dan fungsi tiap-tiap anggota keluarga
  6. Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepa selira antar sesama anggota keluarga
  7. Menjalankan kewajiban sebagai anggota keluarga dengan tulus dan ikhlas
  8. Menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga
  9. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman diantara anggota keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian pada anggota keluarga.

C. Apresiasi Pernikahan

Pernikahan yang langgeng tidak luput dari keharmonisan yang berhasil diciptakan oleh pasangan. Apresiasi adalah suatu proses melihat, mendengar, menghayati, menilai, menjiwai, dan membandingkan atau penilaian terhadap sesuatu. Dalam hal pernikahan, apresiasi atau penghargaan dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Memberikan nama panggilan kesayangan yang manis dan baik adalah hal kecil yang dapat dilakukan oleh pasangan.

Mulailah dari sekarang, saat ini, dimana saja kita berada menjaga kepercayaan yang sudah diberikan dari pasangan, agar tercipta keluarga harmonis yang menjadi inspirasi keluarga lain yang ada isekitar kita, dan jangan lupa saling memuji.

Posted in Artikel