Menu Close

Holopis Kuntul Baris, Bersama Kita Bisa

Oleh: Agus Hari Prabowo

Belajar keaksaraan identik belajar dengan peserta yang sudah berumur atau bahkan lanjut usia. Namun, karena faktor usia tersebut, pembelajaran menjadi lebih menarik sekaligus menantang.

Pada umumnya belajar aksara dan angka ini seperti mengajarkan membaca pada anak-anak. Ternyata pendekatan yang dilakukan sangatlah berbeda. Orang dewasa sudah memiliki pengalaman sendiri. Ia tidak bisa ditukar dengan pengalaman yang lainnya. Sehingga, setiap pengalaman yang dimiliki warga belajar pastilah unik.

Tutor selaku sutradara dalam pembelajaran harus mampu melihat dan membawa perbedaan pengalaman individual tersebut ke dalam pembelajaran yang menyenangkan. Ini sebenarnya tidak mudah, namun dengan jam terbang mengajar yang cukup maka akan semakin terasah. Tutor tidak sekedar mengajar akan tetapi senantiasa menciptakan suasana belajar yang interaktif dengan materi yang ada.

Nah, dari sisi warga belajar rasanya perlu juga digali berbagai pertanyaan dasar. Misalnya, mengapa mereka ingin terlibat dalam pembelajaran, apa manfaatnya dan bagaimana mereka mengikutinya. Ada satu kisah menarik saat ujicoba konseptual bahan ajar digital di lokasi Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, Gunungkidul.

Ada salah satu warga belajar pendidikan multikeaksaraan yang sudah berusia cukup. Namanya Mbah Wartono. Usianya sudah memasuki 73 tahun, Namun beliau masih energik dan cekatan. Bahkan dalam pembelajaran sangat antusias, aktif dan kooperatif terhadap peserta yang lain.

Bagi Mbah Wartono, mengikuti pembelajaran keaksaraan sudah diniati dengan sepenuh hati. Jika dulu di jaman Jepang ia tidak bisa sekolah maka sekarang tidak terlambat pula untuk tetap menuntut ilmu. Kalau dulu sulit mencari makan, maka dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari sekarang akan memudahkannya untuk mencari makan. Jangan sampai di jaman yang sudah maju ini masih mengalami kesulitan karena tidak mampu baca, tulis dan berhitung.

Lanjutnya lagi, tentang proses belajar yang dilakukan saat ini sungguh menyenangkan. Ia sangat menikmati proses belajar bersama tutor. Belajar keaksaraan itu ibarat slogan “holopis kuntul baris”, bersama kita bisa lakukan. Ikuti apa yang diajarkan tutor, kerjakan dengan maksimal, kerjasamakan dengan warga belajar yang lain, maka pelajaran yang sulit akan mudah dipahami.

Simbah ini pun bertutur bahwa kerjasama dalam belajar akan memudahkan segalanya. Semua ini juga tidak lepas dari peran tutor yang selalu mendampingi dengan sabar dan ikhlas hingga semua warga belajar mampu menguasai baca, tulis dan berhitung.

Posted in Artikel