Menu Close

Disiplin Membangun Karakter Bangsa

Oleh Hasiyati

Kata disiplin sangat sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin merupakan salah satu kebiasaan yang baik dalam pola hidup masyarakat secara umum. Tidak hanya itu, bahkan sebagian orang percaya bahwa disiplin dapat menjadi salah satu kunci sukses keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu dan dalam hal-hal yang lain. Karena pentingnya hal ini, setiap orang wajib mengetahui segala informasi tentang disiplin agar dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu pengertian disiplin adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib dan sebagainya). Dalam pengertian disiplin tersebut, ada 2 kata kunci utama yakni taat (patuh) dan aturan (tata tertib). Hal ini dapat dimaknai bahwa disiplin tumbuh dari sikap patuh dalam diri seseorang untuk mengikuti aturan yang telah dibuat untuk diri maupun lingkungan sekitarnya.

Tujuan disiplin

Penerapan disiplin mempunyai tujuan yang beragam. Salah satunya adalah mengembangkan pribadi yang dapat mengendalikan diri dengan baik. Saat sesorang terikat dengan peraturan dan berusaha mematuhinya, hal ini dapat menghindarkannya dalam berlaku secara semena-mena dan diluar kendali. Hal ini juga dapat mengurangi resiko gesekan sosial yang mungkin terjadi dalam anggota masyarakat. Maka dari itu, disiplin juga bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang tertib dan damai.

Jenis-jenis disiplin

Terdapat berbagai macam jenis disiplin, diantaranya disiplin belajar dan disiplin bekerja.

Disiplin belajar

Disiplin belajar sebenarnya suatu bentuk kesadaran diri untuk mengendalikan dirinya. Dalam hal ini, disiplin belajar berfungsi sebagai pengendali diri yang berada pada diri orang tersebut sehingga belajar akan penuh kesadaran, tanpa paksaan dan penuh sukacita/bersyukur. Karena untuk mampu disiplin dalam belajar memerlukan suatu perenungan untuk terus bertanya pada diri mengapa saya harus belajar hingga orang tersebut memperoleh suatu alasan yang mendalam dan memuat spiritualitas, emosi dan kognitif mengapa harus belajar.

Faktor yang mempengaruhi disiplin belajar, diantaranya :

Tujuan dan kemampuan

Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan peserta kursus. Tujuan yang  akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan peserta kursus. Hal ini berarti bahwa tujuan (pelajaran) yang dibebankan kepada peserta kursus harus sesuai dengan kemampuan peserta kursus bersangkutan, agar belajar sungguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakannya. Akan tetapi, jika pelajaran itu di luar kemampuannya atau jauh di bawah kemampuannya, maka kesungguhan dan kedisiplinan peserta kursus akan rendah.

Teladan instruktur

Instruktur harus memberi contoh yang baik, jujur, adil, serta sesuai kata dengan perbuatan. Dengan teladan instruktur yang baik, kedisiplinan peserta kursus pun akan ikut baik. Jika teladan instruktur kurang baik (kurang berdisiplin), para peserta kursus pun akan kurang disiplin. Instruktur tidak dapat mengharapkan kedisiplinan peserta kursus baik jika dirinya sendiri kurang disiplin. Instruktur harus menyadari bahwa perilakunya akan dicontoh dan diteladani peserta kursus, Hal inilah yang mengharuskan instruktur mempunyai kedisiplinan yang baik agar para peserta kursuspun mempunyai disiplin yang baik pula.

Balas jasa

Balas jasa ikut mempengaruhi kedisiplinan peserta kursus karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan peserta kursus terhadap lembaga/pelajarannya. Jika kecintaan peserta kursus semakin baik terhadap pelajaran, kedisiplinan mereka akan semakin baik pula. Untuk mewujudkan kedisiplinan peserta kursus yang baik, lembaga harus memberikan balas jasa yang sesuai.

Keadilan

Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan peserta kursus, karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting dan minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas jasa (pengakuan) atau hukuman akan merangsang terciptanya kedisiplinan peserta kursus yang baik. Instruktur yang cakap dalam mengajar selalu berusaha bersikap adil terhadap semua peserta kursusnya. Dengan keadilan yang baik akan menciptakan kedisiplinan yang baik pula.

Pengawasan melekat (waskat)

Pengawasan melekat (waskat) adalah tindakan nyata dan paling efektif dalam mewujudkan kedisiplinan peserta kursus lembaga. Dengan waskat berarti Instruktur harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah belajar, dan prestasi belajar peserta kursusnya. Hal ini berarti Instruktur harus selalu ada/hadir di lembaga agar dapat mengawasi dan memberikan petunjuk, jika ada peserta kursus yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pelajarannya.

Sangsi atau Hukuman

Sangsi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan peserta kursus. Dengan sangsi hukuman yang semakin berat, peserta kursus akan semakin takut  melanggar peraturan-peraturan lembaga, sikap dan perilaku indispliner peserta kursus akan berkurang. Berat/ringannya sangsi hukuman yang akan diterapkan ikut mempengaruhi baik/buruknya kedisiplinan peserta kursus. Sangsi hukuman harus ditetapkan berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal dan diinformasikan secara jelas kepada semua peserta kursus. Sangsi hukuman seharusnya tidak terlalu ringan atau terlalu berat supaya hukuman itu tetap mendidik peserta kursus untuk mengubah perilakunya.

Ketegasan

Ketegasan Instruktur dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi kedisiplinan peserta kursus lembaga. Instruktur harus berani dan tegas, bertindak untuk menghukum setiap peserta kursus yang indisipliner sesuai dengan sangsi hukuman yang telah ditetapkan. Instruktur yang berani bertindak tegas menerapkan hukuman bagi peserta kursus yang indisipliner akan disegani dan diakui kedisiplinannya oleh peserta kursus. Dengan demikian, Instruktur akan dapat memelihara kedisiplinan peserta kursus lembaga. Sebaliknya apabila seorang Instruktur kurang tegas atau tidak menghukum peserta kursus yang indisipliner, sulit baginya untuk memelihara kedisiplinan peserta kursusnya, bahkan sikap indisipliner peserta kursus semakin banyak karena mereka beranggapan bahwa peraturan dan sangsi hukumannya tidak berlaku lagi. Instruktur yang tidak tegas menindak atau menghukum peserta kursus yang melanggar peraturan, sebaiknya tidak usah membuat peraturan atau tata tertib pada lembaga tersebut.

Hubungan yang harmonis

Hubungan kemanusiaan yang harmonis di antara sesama peserta kursus ikut menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu lembaga. Hubungan-hubungan baik bersifat vertikal maupun horizontal yang terdiri dari direct single relationship, direct group arelationship dan cross relationship hendaknya harmonis. Instruktur harus berusaha menciptakan suasana hubungan kemanusiaan yang serasi serta mengikat, vertikal maupun horizontal diantara semua peserta kursusnya. Terciptanya human relationship yang serasi akan mewujudkan lingkungan dan suasana belajar yang nyaman. Hal ini akan memotivasi kedisiplinan yang baik pada lembaga. Jadi, kedisiplinan peserta kursus akan tercipta apabila hubungan kemanusiaan dalam lembaga tersebut baik.

Implikasi disiplin dalam pembelajaran

Upaya–upaya pengembangan disiplin dan kemungkinannya yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan (implementasi) disiplin belajar dilapangan diantaranya adalah :

  1. Melalui kegiatan ekstrakulikuler, dengan pemberian tugas dilakukan tiga kali selama mengikuti kursus. Melalui kegiatan inilah fasilitator dapat mengajarkan disiplin pada peserta kursus.
  2. Mengembangkan pendidikan penyadaran. Peserta kursus disadarkan tentang peranan, tugas, serta tanggungjawabnya sebagai pribadi yang harus menjalani kehidupannya. Dengan disiplin hidup akan jauh lebih teratur dan terarah.
  3. Mengembangkan pemahaman yang berkaitan dengan manfaat disiplin bagi kehidupan pribadi serta manfaatnya untuk orang lain.
  4. Latihan pembiasaan. Tidak perlu menggunakan kekerasan namun tetap tegas. Karena dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.
  5. Mengembangkan modeling atau contoh tokoh (orang yang dapat dijadikan panutan), sehingga lebih memacu minat peserta kursus/masyarakat untuk melaksanakan disiplin.
  6. Fasilitator memahami dan menghargai pribadi peserta kursus (masyarakat) dan tidak perlu memaksakan kehendak kepada mereka.
  7. Sosialisasi tentang pentingnya disiplin serta manfaatnya bagi diri pribadi peserta kursus dan orang yang disekitar mereka
  8. Melalui kegiatan pelatihan kepemimpinan. Dengan terbiasa bertindak sebagai pemimpin maka seseorang itu akan selalu melaksanakan disiplin dan menerapkannya pada orang lain.
  9. Melalui kegiatan yang dapat membangun karakter/kepribadian. Membangun karakter/kepribadian dalam hal ini adalah dengan membangkitkan sikap percaya diri dalam diri seseorang agar lebih paham tentang dirinya sendiri. Ia diberikan penjelasan ataupun si fasilitator menggali dan mengungkap kelebihan ataupun semua potensi yang terdapat dalam diri peserta kursus/warga belajar tersebut.
  • Penerapan disiplin belajar untuk peserta kursus

Berikut adalah beberapa cara untuk menerapkan disiplin belajar peserta kursus dalam proses pembelajaran di lembaga kurusus.

Disiplin dalam menentukan strategi belajar

Peserta kursus yang memiliki cara belajar yang efektif memungkinkan untuk mencapai hasil atau prestasi yang lebih tinggi dari pada peserta kursus  yang tidak mempunyai cara belajar yang efektif. Untuk belajar secara efektif dan efisien diperlukan kesadaran dan disiplin tinggi setiap peserta kursus. Belajar secara efektif dan efisien dapat dilakukan oleh peserta kursus yang berdisiplin. Langkah pertama yang perlu dimiliki agar dapat belajar secara efektif dan efisien adalah kesadaran atas tanggung jawab pribadi dan keyakinan bahwa belajar adalah untuk kepentingan diri sendiri, dilakukan sendiri dan tidak menggantungkan nasib pada orang lain.

Disiplin terhadap pemanfaatan waktu

Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh peserta kursus adalah banyak peserta kursus yang mengeluh kekuragan waktu untuk belajarnya, tetapi mereka sebenarnya kurang memiliki keteraturan dan disiplin untuk mempergunakan waktu secara efisien. Keterampilan mengatur waktu merupakan suatu keterampilan yang sangat penting, bahkan The Liang Gie dalam Rahmawati (2016: 2) yang juga seorang ahli keterampilan studi yang berpendapat bahwa salah satu hal yang terpenting dalam masa studi maupun seluruh kehidupan seorang individu yang dalam peserta kursus adalah keterampilan mengelola waktu dan menggunakannya secara efisien.

Disiplin terhadap tugas

Salah satu prinsip belajar adalah ulangan dan latihan. Sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa ”mengerjakan tugas dapat berupa pengerjaan tes atau ulangan atau ujian yang diberikan Instruktur, tetapi juga termasuk membuat atau mengerjakan latihan-latihan yang ada dalam buku ataupun soal-soal buatan sendiri”(Slameto, 2003: 88.)

Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka, tugas itu dapat berupa tes atau ulangan dan juga dapat berupa latihan-latihan soal atau pekerjaan rumah. Mempunyai kebiasaan untuk melatih diri mengerjakan soal-soal latihan serta mengerjakan pekerjaan rumah dengan disiplin, tidak akan terlalu kesulitan dalam belajarnya, serta dapat dengan mudah mengerjakan setiap pekerjaan rumah yang diberikan oleh instruktur.

Disiplin terhadap tata tertib

Dalam proses balajar mengajar, disiplin terhadap tata tertib sangat penting untuk diterapkan, karena apabila di suatu lembaga tidak memiliki tata tertib maka proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa ”peraturan tata tertib merupakan sesuatu untuk mengatur prilaku yang diharapkan terjadi pada diri peserta kursus” (Arikunto, 1993: 122.). Antara peraturan dan tata tertib merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sebagai pembentukan disiplin peserta kursus dalam mentaati peraturan di dalam kelas maupun diluar kelas.

Untuk melakukan disiplin Instruktur mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan dan mengontrol berlakunya peraturan dan tata tertib tersebut.

Disiplin kerja

Selain disiplin belajar, terdapat disiplin kerja yang juga tidak kalah penting untuk mempersiapkan peserta kursus dalam menyongsong kehidupan masa depan. Tentu saja, disiplin kerja dan disiplin belajar jauh berbeda. Untuk itu, sangat penting untuk mengetahui informasi terkait disiplin kerja.

Pengertian disiplin kerja

Disiplin dalam kamus bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta adalah(a) latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perbuatannya selalu mentaati tata tertib; (b) ketaatan pada aturan dan tata tertib. Sedangkan menurut Smith dalam Panji Anaroga (2001:12), tujuan bekerja adalah untuk hidup, atau bekerja diperlukan karena adanya tujuan menopang kesejahteraan, yang tampaknya orang tidak bisa menikmati hidup. Oleh karenanya, kini kerja juga melibatkan masalah kebutuhan ekonomi, hanya kegiatan yang termotivasi oleh kebutuhan ekonomi saja yang dapat dikategorikan sebagai kerja, sedangkan orang yang tidak mendapatkan imbalan tidak dapat dikatakan bekerja.

Suatu organisasi yang baik selalu mempunyai aturan internal dalam rangka meningkatkan kinerja dan profesionalisme, budaya organisasi maupun kebersamaan, kehormatan, dan kredebilitas organisasi serta untuk menjamin tetap terpeliharanya tata tertib dalam pelaksanaaan tugas sesuai tujuan, peran, fungsi, wewenang dan tanggung jawab institusi tersebut.

Organisasi yang berjalan optimal tidak dapat dikaitkan sepenuhnya hanya pada kebutuhan ekonomi saja, karena pada kenyataannya faktor disiplin kerja mempunyai peranan yang tidak kalah penting untuk membentuk seseorang mempunyai tanggung jawab dalam bekerja.

Tujuan organisasi yang hendak dicapai peranan variabel-variabel tersebut saling mendukung dan berkaitan satu sama lain. Peranan individu dalam hal ini pegawai sangat penting karena suatu sistem, struktur, dan proses tidak akan berjalan dengan baik tanpa peranan individu dalam menjalankan variabel-variabel tersebut.

Salah satu peranan individu atau pegawai adalah dengan melaksanakan disiplin kerja yang berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki pegawai tersebut.

Dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan itu pegawai diharapkan mengetahui, memahami, melaksanakan dan mematuhi segala aturan dan norma-norma dalam lingkungan kerja sebagai sistem organisasi pegawai serta metode-metode tertentu dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan atau tugas-tugasnya sehari-hari dengan baik yang akhirnya dapat memenuhi tujuan organisasi yang diharapkan.

Disiplin kerja merupakan suatu proses perkembangan konstruktif bagi pegawai yang berkepentingan karena disiplin kerja ditunjukan pada tindakan bukan orangnya. Disiplin juga sebagai proses latihan pada pegawai agar para pegawai dapat mengembangkan kontrol diri dan agar dapat menjadi lebih efektif dalam bekerja. Dengan demikian tindakan pendisiplinan juga hendaknya mempunyai sasaran yang positif, bersifatnya mendidik dan mengoreksi, bukan tindakan negatif yang menjatuhkan pegawai atau bawahan yang indisipliner dengan maksud tindakan pendisiplinan untuk memperbaiki efektifitas dalam tugas dan pergaulan sehari-hari di masa yang akan datang bukan menghukum kegiatan masa lalu.

Pengertian disiplin kerja menurut Husin (2000:95) adalah pegawai patuh dan taat melaksanakan peraturan kerja yang berupa lisan maupun tulisan dari kelompok maupun organisasi. Sedangkan menurut Mangkunegara (2001:129), disiplin kerja dapat diartikan pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman organisasi. Pendapat lain menyatakan bahwa disiplin kerja sebagai sikap menghormati, menghargai, dan taat pada peraturan yang berlaku baik tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya, tidak mengelak dangan sangsi-sangsi apabila melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya.

Kurangnya kesadaran dan kesediaan untuk bertindak atau berperilaku sesuai norma dan peraturan atau undang-undang menyebabkan individu atau pegawai berbuat indisipliner. Lebih lanjut lagi menurut Hasibuan (2001:193), dalam suatu organisasi umumnya individu-individu yang berada di dalamnya sadar akan adanya norma atau aturan organisasi dan mereka pun sadar akan tuntutan kepatuhan tehadap norma atau aturan tersebut. Norma itu sendiri merupakan standar atau aturan main yang diikuti oleh banyak orang. Perilaku yang ditunjukan oleh masing-masing individu pegawai mencerminkan sampai seberapa jauh pegawai tersebut konsekuen dan konsisten mengikuti dan mematuhi atau melanggar norma dan aturan yang berlaku di organisasii pemerintahan.

Disiplin kerja pegawai mutlak harus dijalankan dan ditegakkan demi tumbuh berkembangnya suatu aparatur pemerintah dalam mengamalkan tugas dan tangung jawab yang telah dipercayakan bangsa dan Negara kepada pegawai negeri oleh karena itu sudah menjadi kewajiban setiap pegawai untuk menegakkan disiplin.

Adapun dalam Undang-undang nomor 43 Tahun 1949 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 8 Tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian bahwa “peraturan disiplin adalah suatu peraturan yang membuat keharusan, larangan dan sangsi, apabila keharusan tidak dituruti atau larangan dilanggar. Untuk menjamin tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas maka dengan tidak mengurangi ketentuan dalam peraturan perundang-undangan pidana diadakan disiplin pegawai negeri sipil”.

Disiplin belum dapat dinyatakan efektif bekerja bilamana penampilan kedisiplinan itu hanya berdasarkan ketakutan. Disiplin dalam arti sejati adalah hasil dari interaksi norma-norma yang harus dipatuhi. Norma-norma itu tidak lain hanya bersangkutan dengan ukuran legalistik melainkan berkaitan dengan etika dan tata krama. Hasibuan (2005:120) berpendapat disiplin adalah kesadaran dan kesediaan seseorang untuk mematuhi semua peraturan organisasi dan norma-norma sosial yang berlaku.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja adalah suatu yang kemampuan yang akan berkembang dalam kehidupan keseharian seseorang atau kelompok (organisasi) dalam bertaat azas, peraturan, norma-norma, dan perundang-undangan untuk melakukan nilai-nilai kaidah tertentu dan tujuan hidup yang ingin dicapai oleh mereka dalam bekerja.

Macam-Macam Disiplin Kerja

Disiplin dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu internal dan eksternal. Disiplin eksternal disebut sebagai disiplin negatif, sedangkan disiplin internal disebut sebagai disiplin yang positif. Hal senada juga dikemukakan oleh Hurlock (1978: 82), ada dua konsep mengenai disiplin, yaitu disiplin positif dan disiplin negatif. Disiplin positif sama artinya dengan pendidikan dan bimbingan karena menekankan pertumbuhan di dalam diri yang mencakup disiplin diri (self discipline) yang mengarah dari motivasi diri sendiri, dimana dalam melakukan sesuatu (mentaati aturan dan norma) harus datang dari kesadaran diri sendiri. Disiplin negatif berarti pengendalian dengan kekuasaan luar yang biasanya dilakukan secara terpaksa dan dengan cara yang kurang menyenangkan atau dilakukan karena takut hukuman (punishment).

Mangkunegara (2001:129) mengutarakan macam-macam displin kerja dalam organisasi, yaitu yang bersifat preventif dan bersifat korektif:

Disiplin Preventif

Pendekatan yang bersifat preventif adalah tindakan yang mendorong para pegawai untuk taat kepada berbagai ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang ditetapkan. Artinya melalui kejelasan dan penjelasan tentang pola sikap, tindakan dan perilaku yang diinginkan dari setiap anggota organisasi diusahakan pencegahan jangan sampai para pegawai berperilaku negatif.

Keberhasilan penerapan pendisiplinan preventif terletak pada disiplin pribadi para pegawai organisasi. Akan tetapi agar disiplin pribadi tersebut semakin kokoh, paling sedikit ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

  • Para anggota organisasi perlu didorong agar mempunyai rasa memiliki organisasi, karena secara logika seseorang tidak akan merusak sesuatu yang merupakan miliknya.
  • Para pegawai perlu diberikan penjelasan tentang berbagai ketentuan yang wajib ditaati dan standar yang harus dipenuhi. Penjelasan dimaksud seyogyanya disertai informasi lengkap mengenai latar belakang berbagai ketentuan yang bersifat normatif tersebut.
  • Para pegawai didorong menentukan sendiri cara-cara pendisplinan diri dalam kerangka ketentuan yang berlaku umum bagi seluruh anggota organisasi.
  1. Disiplin Korektif

Disiplin korektif adalah suatu upaya menggerakan pegawai dalam menyatukan suatu peraturan dan mengarahkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku pada organisasi. Pada disiplin korektif, pegawai yang melanggar disiplin perlu diberikan sangsi yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Tujuan pemberian sangsi adalah untuk memperbaiki pegawai pelanggar, memelihara peraturan yang berlaku, dan memberikan pelajaran bagi pelanggar. Berat atau ringannya suatu sangsi tentunya pada bobot pelanggaran yang telah terjadi. Pengenaan sangsi biasanya mengikuti prosedur yang sifatnya hierarki. Artinya pengenaan sangsi diprakasai oleh atasan langsung pegawai yang bersangkutan, diteruskan kepada pimpinan yang lebih tinggi dan keputusan akhir diambil oleh pejabat pimpinan yang berwenang.

Pendisiplinan dilakukan secara bertahap, dengan mengambill berbagai langkah yang bersifat pendisiplinan dimulai dari yang paling ringan hingga yang paling terberat.

Prinsip-Prinsip Disiplin kerja

Husein (2000:39) berpendapat bahwa seorang pegawai yang dianggap melaksanakan prinsip-prinsip disiplin kerja apabila ia melaksanakan hal-hal sebagai berikut :

  1. Hadir di tempat kerja sebelum waktu mulai bekerja.
  2. Bekerja sesuai dengan prosedur maupun aturan kerja dan peraturan organisasi.
  3. Patuh dan taat kepada saran maupun perintah atasan.
  4. Ruang kerja dan perlengkapan selalu dijaga dengan bersih dan rapih.
  5. Menggunakan peralatan kerja dengan efektif dan efisien.
  6. Menggunakan jam istirahat tepat waktu dan meninggalkan tempat setelah lewat jam kerja.
  7. Tidak pernah menunjukkan sikap malas kerja.
  8. Selama kerja tidak pernah absen/tidak masuk kerja dengan alasan yang tidak tepat, dan hampir tidak pernah absen karena sakit

 

  1. Manfaat disiplin

Menurut Adhvara (2010), beberapa manfaat disiplin adalah:

Menumbuhkan kepekaan

Anak tumbuh menjadi pribadi yang peka/berperasaan halus dan percaya pada orang lain. Sikap ini memudahkan dirinya mengungkapkan perasaannya kepada orang lain, termasuk orang tuanya (empati)

Menumbuhkan kepedulian

Peserta kursus jadi peduli pada kebutuhan dan kepentingan orang lain. Disiplin membuat anak memiliki integritas, selain dapat memikul tanggung jawab, mampu memecahkan masalah dengan baik,cepat dan mudah.

Mengajarkan keteraturan

Peserta kursus jadi mempunyai pola hidup yang teratur dan mampu mengelola waktunya dengan baik

Menumbuhkan percaya diri

Sikap ini tumbuh berkembang pada saat peserta kursus diberi kepercayaan untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang mampu ia kerjakan dengan sendiri.

Menumbuhkan kemandirian

Dengan kemandirian peserta kursus dapat diandalkan untuk bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Peserta kursus juga dapat mengeksplorasi lingkungan dengan baik.Disiplin merupakan bimbingan yang tepat pada peserta kursus untuk sanggup menentukan pilihan yang bijak.

Menumbuhkan keakraban

Peserta kursus menjadi cepat akrab dan ramah terhadap peserta kursusyang lain karena kemampuannya beradaptasi lebih terasah  dengan sendirinya akan membentuk kebiasaan dan sikap yang positif.

Membantu peserta kursus yang “sulit”

Kadang-kadang kita lupa pada peserta kursus yang berkebutuhan khusus yang memerlukan penanganan khusus, melalui disiplin yang menekankan keteraturan anak berkebutuhan khusus bisa hidup lebih baik.

Menumbuhkan kepatuhan

Hasilnya peserta kursus akan menuruti aturan yang ditetapkan orangtua atas kemauan sendiri.

Teknik menegakkan disiplin

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam rangka menegakkan disiplin peserta kursus dan pelatihan.

  1. Pastikan semua peserta kursus dan instruktur kursus mengetahui dan menyetujui peraturan yang diterapkan dalam pembelajaran.
  2. Sebagai instruktur kursus, anda wajib mengawasi jalannya peraturan dan memberikan contoh yang baik dan konseling bilamana ada peserta kursus yang melanggar.
  3. Kenali penyebab pelanggaran (jika ada) dengan cara berdiskusi dengan peserta kursus.
  4. Berikanlah solusi yang bijak dengan cara memberikan saran terhadap pelanggaran yang dilakukan peserta kursus.
  5. Jika peserta tersebut masih melanggar, berikanlah surat peringatan.
  6. Jika peserta kursus tersebut masih melanggar lagi anda dapat memberihukuman yang mendidik agar dia tidak mengulangi perbuatannya

DAFTAR PUSTAKA

Yusuf, Syamsu. 2011. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

The Liang gie, 1995. Cara Belajar Yang Efisien. Yogyakarta: Liberti

Slameto, 2003. Belajar dan FaktorFaktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto, 1993, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarja: Rineka Cipta

W.J.S. Poerwadarminta, Anoraga, 2006, Kamus Besar  Bahasa Indonesia

Hasibuan, Malayu S.P, 2001, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara

Hasibuan, Malayu S.P, 2005, Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi, Jakarta: Bumi Aksara

Anwar Prabu Mangkunegara, 2001, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Bandung. Remaja Rosdakarya

Husen Umar, 2000, Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen,  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Hurlock Elizabeth B, 1978. Perkembangan Anak, Jakarta: Erlangga

Anoraga, Panji, 2001. Psikologi Kerja, Jakarta: Rineka Cipta

http://kbbi.web.id/disiplin diunduh tanggal 17 Juni 2016 pada pukul 08: 01 WIB.

Rahmawati, A. 2016. Materi: Manajemen Waktu. http://dokumen.tips/documents/materi-manajemen-waktu-5699ea06f07a1.html. Diunduh tanggal 17 Juni 2016 pukul 08: 48 WIB.

http://digilib.unila.ac.id/14207/23/BAB%20II.pdf tanggal 17 Juni 2016 pukul 09: 02 WIB

https://adhvara.wordpress.com/2010/02/14/manfaat-disiplin/tanggal 17 juni pukul 09 : 57 WIB

Prijosaksono, A dan Dwi Sanjaya, 2002. Use Your 7 Power. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=282 diunduh tanggal 3 Juni 2016 pada pukul 09: 49 WIB.

Posted in Artikel