Menu Close

Di Balik Batu Karang Pegunungan Karst

Oleh: Agus Hari Prabowo

Selain miskin, sulit mendapatkan air bersih, Gunungkidul juga dikenal sebagai kantong buta aksara. Masih banyak warganya yang belum melek aksara. Hal ini mengakibatkan sulitnya wilayah Gunungkidul untuk berkembang. Partisipasi warga sangat kecil dalam pembangunan.

Kondisi ini ternyata menggugah beberapa tokoh yang peduli dengan pendidikan. Hanya dengan pendidikan pola pikir, harkat, martabat, dan kesejahteraan warga dapat ditingkatkan. Ini terjadi di salah satu sudut wilayah terpencil Gunungkidul. Tepatnya di Desa Girisuko, Kecamatan Panggang. Wilayah nan jauh dari keramaian, bahkan berliku jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke sana.

Adalah Ibu Ismiyati yang mengawali proses pendidikan bagi warga Desa Girisuko. Bersama dengan 7 (tujuh) orang lainnya menjadi pejuang-pejuang literasi. Ibu Sujanati, Ikhtiarti, Sri Rejeki, Wulandari, Nislatifanur, Rahayu Listy, dan Fajar Sodiq telah puluhan tahun berjuang mencerdaskan warga desa melalui PKBM Suko Makmur.

Pengalaman yang cukup lama ini membentuk pribadi yang tangguh dan kreatif dalam menjalankan proses belajar. Strategi yang tepat semakin dikuasai manakala menemui kesulitan belajar warga belajar. Namun, yang terpenting adalah bagaimana memotivasi warga belajar agar tetap semangat dalam belajar.

Berjuang di bidang literasi tidaklah mudah. Butuh kesabaran dan cara yang tepat agar warga belajar senantiasa semangat. Salah satu pejuang literasi, Ibu Sri Rejeki menuturkan, pada awalnya merasa sedih karena melihat warga belum mampu membaca, menulis dan berhitung. Namun, melalui program pendidikan literasi baca tulis dan hitung (keaksaraan) ia merasa senang. Ketika berhasil membentuk warga belajar mau belajar dengan penuh semangat menumbuhkan kepuasan pribadi tersendiri. Dalam proses belajar pun mulai menemukan rasa senang. Rasa senang itu muncul saat warga belajar berusaha membaca, menulis dan berhitung dengan kemampuannya sendiri. Apalagi saat warga belajar sudah lancar dalam baca, tulis dan berhitung. Menjadi pribadi yang berguna bagi sesama menjadi lading amal para pejuang literasi ini. Semangat!


Posted in Artikel